Mahkamah Agung Republik Indonesia
Beranda/Berita/PENINJAUAN KEMBALI POLLYCARPUS Suciwati Bantu Kejaksaan

PENINJAUAN KEMBALI POLLYCARPUS Suciwati Bantu Kejaksaan

okho

Peninjauan kembali oleh jaksa berdasarkan yurisprudensi Mahkamah Agung

Jakarta "“ Suciwati, istri aktivis hak asasi manusia Munir, menyatakan akan membantu tim Kejaksaan Agung yang sedang menyiapkan permohonan peninjauan kembali kasus Pollycarpus Budihari Priyanto.

"Kami akan memberikan masukan kepada tim," ujar Suciwati saat dihubungi Tempo tadi malam. Suciwati optimis, dengan terbentuknya tim ini, kasus pembunuhan suaminya akan terungkap. "Meski selama ini kerja penyidik lambat."

Pollycarpus sempat divonis 14 tahun penjara karena terlibat pembunuhan Munir. Putusan kasasi Mahkamah Agung menyatakan Pollycarpus ditahan sejak Maret 2005 hanya melakukan kesalahan administrasi berupa pemalsuan surat tugas. Hukumannya dua tahun penjara. Setelah mendapat remisi (pengurangan masa hukuman), Pollycarpus bebas pada 25 Desember lalu.

Kejaksaan dan Kepolisian berencana mengajukan permohonan peninjauan kembali. Kepolisian menyatakan akan membawa rekaman percakapan telepon Pollycarpus dengan beberapa orang untuk diperiksa di Amerika Serikat.

Suciwati mengatakan, pada Senin mendatang, dia akan bertemu dengan Abdul Hakim Ritonga, ketua tim peninjauan kembali Pollycarpus. Rencananya, pertemuan itu akan membicarakan apa saja yang telah diperoleh kejaksaan dan berapa lama tim itu bekerja.

Kejaksaan Agung sendiri telah membentuk tim persiapan pengajuan permohonan peninjauan kembali Pollycarpus. Menurut juru bicara Kejaksaan Agung, Salman Maryadi, tim ini dibentuk oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum. "Tim itu untuk mempersiapkan, meneliti, dan menelaah putusan Mahkamah Agung yang membebaskan Pollycarpus," ujar Salman dikantornya kemarin.

Salman tidak dapat menjelaskan bukti yang bakal dijadikan dasar pengajuan permohonan peninjauan kembali. "Nanti lihat saja materi peninjauan kembali saat diperiksa di pengadilan." Ujarnya.

Kendati begitu, Salman menegaskan kejaksaan mengajukan permohonan peninjauan kembali berdasarkan yurisprudensi (rujukan) putusan Mahkamah Agung. Mahkamah Agung mengabulkan permohonan peninjauan kembali yang diajukan jaksa dalam kasus Muchtar Pakpahan dan Gandhi Memorial School.

Selain yurisprudensi itu, kata Salman, pengajuan permohonan peninjauan kembali berdasarkan teori interpretasi a contrario terhadap Pasal 263 Kitab ndang-Undang Hukum Acara Pidana. Menurut pasal itu, permintaan peninjauan kembali dapat dilakukan bila ada bukti baru (novum), bukti yang bertentangan satu sama lain, dan kekhilafan hakim.

Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat Bambang Rukmono mengatakan tim tersebut meliputi tim dari Kejaksaan Agung, Kejaksaan Tinggi Jakarta, dan Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat. "Salah satu alasan tim ini dibentuk justru untuk menentukan dasar pengajuan peninjauan kembali," ujar Bambang dalam kesempatan berbeda.

⚠️ Hati-hati terhadap penipuan yang mengatasnamakan Mahkamah Agung.
1. Mahkamah Agung tidak melakukan komunikasi baik lisan maupun tertulis dengan pihak berperkara.
2. Semua komunikasi yang berkaitan dengan penyelesaian perkara meliputi informasi kekurangan berkas, registrasi perkara, dan pemberitahuan salinan putusan disampaikan melalui pengadilan pengaju.
3. Pengadilan pengaju akan menyampaikan kepada pihak berperkara melalui petugas resmi yang ditunjuk sesuai peraturan perundang-undangan.
4. Cek info perkara Anda hanya di: https://kepaniteraan.mahkamahagung.go.id/perkara
⚠️ Hati-hati terhadap penipuan yang mengatasnamakan Mahkamah Agung.
1. Mahkamah Agung tidak melakukan komunikasi baik lisan maupun tertulis dengan pihak berperkara.
2. Semua komunikasi yang berkaitan dengan penyelesaian perkara meliputi informasi kekurangan berkas, registrasi perkara, dan pemberitahuan salinan putusan disampaikan melalui pengadilan pengaju.
3. Pengadilan pengaju akan menyampaikan kepada pihak berperkara melalui petugas resmi yang ditunjuk sesuai peraturan perundang-undangan.
⚠️ Hati-hati terhadap penipuan yang mengatasnamakan Mahkamah Agung.
1. Mahkamah Agung tidak melakukan komunikasi baik lisan maupun tertulis dengan pihak berperkara.
2. Semua komunikasi yang berkaitan dengan penyelesaian perkara meliputi informasi kekurangan berkas, registrasi perkara, dan pemberitahuan salinan putusan disampaikan melalui pengadilan pengaju.
3. Pengadilan pengaju akan menyampaikan kepada pihak berperkara melalui petugas resmi yang ditunjuk sesuai peraturan perundang-undangan.